Gue punya seorang Pakde di Bandung, yang mana dia adalah kakak kandung dari Mami, Pakde tinggal bersama Istrinya (biasa gue panggil Bude), 2 orang anak, 1 orang cucu dan 1 orang menantu. Di saat gue lagi pengen nge-bandung karena bosan dengan kehidupan monoton di Jatinangor, di sanalah gue selalu menginap. Bude yang emang dasarnya gaul banget, selalu ngeledekin gue sama Kendry, karena emang Kendry yang selalu nganter-jemput gue kalau gue nginep di sana, jadi mereka sudah saling kenal. Saat terakhir gue nginep di rumahnya, Bude masih sehat banget, masih ketawa-ketawa, masih ngajak gue ngerumpi, masih ngeledek-ledek gue masalah cowok, dan masih sangat kuat ngerokok. Suatu ketika, Pakde yang sudah berniat untuk pergi haji serombongan dengan keluarga, mengajak Bude dan anak-anaknya pergi haji bersama, tapi Bude lebih memilih untuk berlibur ke Singapur bersama anak, cucu dan menantunya. Pakde pun ga bisa memaksa dan meninggalkan uang untuk mereka berlibur dan Pakde pun berangkat menunaikan ibadah haji.
Tapi beberapa minggu kemudian, saat 5 orang dari keluarga besar Mami pergi haji (termasuk Pakde), gue tiba-tiba dikabarin Mami kalau Bude sakit. Gue pikir biasa ajalah yaa orang tua sakit.. Bude emang sering ngeluh sakit perut dari dulu (bertahun-tahun yang lalu), tapi Bude ga pernah nganggep itu serius, Bude selalu ngatasin itu dengan minum obat maag, dan yaaa emang langsung ga terasa lagi sakitnya, tapi ternyata itu terus-menerus terjadi. Sampai akhirnya Bude bener-bener kesakitan dan ga bisa nahan, sampai nyariiis pingsan, Bude juga ternyata mengalami mens yang ga berhenti-henti selama beberapa minggu terakhir, langsunglah Bude dibawa ke rumah sakit terdekat oleh kedua anaknya dan juga menantunya. Bude langsung menjalani berbagai tes laboratorium, dan ternyata penyakit Bude ga biasa aja (seperti yang sebelumnya gue pikir), Bude divonis kanker perut stadium 4, dan dokter memperkirakan hidupnya maksimal 6 bulan lagi, kalaupun ada keajaiban hidupnya hanya bisa bertahan sampai kurang lebih 8 bulan. Otomatis keluarga gue shock banget, dan keluarga memutuskan untuk ga memberitahu Bude dan Pakde dulu tentang penyakit Bude. Dikarenakan Bude pasti belum siap untuk mendengar itu dan juga Pakde sedang menjalankan ibadah haji yang wajib. Seiring dengan menyembunyikan suatu hal besar itu, Bude dirawat di rumah sakit, tapi Bude ga bisa bertahan lama di sana karena keadaan Bude yang alergi obat-obatan, akhirnya dokter pun menyarankan untuk dirawat di rumah saja sambil mengkonsumsi suplemen makanan berupa vitamin yang biasa Bude konsumsi. Saat gue dan beberapa orang dari keluarga gue menjenguknya di rumah, Bude masih sangat tegar, Bude nekat untuk keluar kamar dan duduk di sofa TV supaya bisa ngobrol dan bercanda bareng. Bude pun bingung kenapa Mami dan tante gue nangis setiap berhadapan muka dengan Bude, karena semua orang pun begitu. Kita semua yang ada di sana cuma bisa diam dan senyum, tanpa memberi jawaban yang berarti atas pertanyaannya.
Waktu pun terus berjalan, sampai akhirnya Bude akan dibawa ke Singapur untuk berobat, mau tidak mau, pihak keluarga harus memberitahunya tentang penyakit sebenarnya yang dia derita. Bude pun amat sangat shock dan terus menangis sejak ia tau penyakit yang sebenarnya menggerogoti tubuhnya, tapi Bude ga tau kalau kanker dalam tubuhnya itu sudah sampai menyerang paru-paru dan hatinya. Pakde pun di Arab sana, akhirnya diberitahu oleh Papi yang juga sedang pergi haji, dan Pakde sejak saat itu langsung jadi cowok paling cengeng di sana. Sesampainya di Singapur, beberapa rumah sakit di Singapur pun ga bisa menangani penyakit Bude, dokter-dokter di sana pun hanya bisa angkat tangan karena memang stadium 4 yang dialami Bude sudah ga bisa diobati. Akhirnya Bude pun pulang dengan tanpa hasil apapun. Dokter di Indonesia akhirnya menawarkan Bude untuk menjalan kemoterapi, mendengar hal itu Bude langsung meminta penjelasan detail tentang kemoterapi dari dokter tersebut, tapi Bude langsung saja menolak tawaran itu, alasan Bude adalah… dia ga mau nanti saat suaminya (Pakde gue) pulang dari haji, melihat dia jadi jelek, kurus dan botak. Anak-anak, menantunya, dan keluarga besar dari pihak Bude maupun Pakde pun terharu banget saat tau alasannya itu, sungguh seorang istri yang hebat, tapi 1 hal jadi masalah besar dalam keluarga besar gue adalah keyakinan Bude yang berbeda dengan keyakinan keluarga besar gue. Bude beragama Kristen. Hal ini yang sungguh jadi beban terbesar keluarga gue, terutama suami dan anak-anaknya. Mami dan tante gue pun meminta anak laki-lakinya (biasa gue panggil Mas Ai) untuk terus memohon ke mamanya agar mau masuk Islam. Awalnya Bude menolak dengan tanpa pikir panjang, dan sempat terjadi perdebatan yang sopan antara Bude dan Mas Ai. Tapi Mas Ai pun tidak terbersit 1 kata pun dalam hatinya untuk mundur, Mas Ai terus memohon sampai air matanya pun tak bisa ia tahan untuk tidak mengalir deras. Mas Ai dan seluruh keluarga besar gue ga mau Bude masih memeluk keyakinannya sampai sakaratul maut tiba, kita ga mau seorang istri yang sangat baik dan sehebat Bude mendapat siksa di akhirat. Dan Mas Ai lah satu-satunya orang yang paling bisa diandalkan selama Pakde belum pulang dari haji, Mas Ai selalu mendampingi Bude sampai tidur bersama mama yang sangat dicintainya itu, dan tak lepas juga Mas Ai terus memohon bahkan sampai mencium kedua kaki mamanya dan terus membisikkan kalimat Allah ke telinga mamanya di saat mamanya sedang tidur. Dan hal itu terus menerus dilakukan oleh Mas Ai setiap harinya, seiring waktu berjalan, seiring dengan perkembangan kanker yang begitu pesat dalam tubuh mamanya, juga seiring dengan semakin melemahnya kondisi mamanya.
Beberapa minggu kemudian, menjelang kepulangan rombongan haji keluarga gue (selain Papi karena memang beda kloter), gue dapat kabar kalau kanker Bude sudah sampai tenggorokan. Pakde pun langsung pulang ke rumahnya di Bandung untuk segera menemui istri tercintanya itu. Saat pertemuan untuk pertama kalinya setelah kepulangan Pakde dari haji itu, Bude pun memeluk Pakde dan menangis dipelukkannya sambil meminta maaf karena sudah ngecewain dan nyusahin Pakde karena Bude sakit di saat Pakde sedang menjalankan ibadah haji. Semua orang yang mendengar itu pun langsung terharu dan dalam benak Pakde, Pakde ga akan menyerah untuk meminta Bude masuk Islam. Karena memang itu merupakan janji terbesar dalam hidupnya dan juga doa utama yang selalu Pakde panjatkan selama ia menjalankan ibadah haji. Bude masuk Islam atau bercerai, itu lah pilihan yang nantinya akan dilontarkan Pakde setelah ia menyandang gelar haji, karena Pakde tidak mau terus-menerus berzinah dengan wanita yang tidak seiman dengannya. Dan sebenarnya saat Bapaknya Pakde (Eyang Kakung gue) sakaratul maut (bertahun-tahun yang lalu), Bude melontarkan janji tepat dihadapan Eyang untuk nantinya menjadi seorang muslimah. Tapi nyatanya setelah bertahun-tahun menikah dengan Pakde, Bude tetap memegang teguh keyakinannya itu. Sebelum Pakde menunaikan ibadah haji, Pakde sudah tiga kali menjalankan umroh, dan setiap kali Pakde pulang umroh, Pakde selalu meceraikan Bude karena Bude terus menolak untuk masuk Islam. Namun mereka pun terus menerus kembali rujuk karena memang saling mencintai.
*TO BE CONTINUED*