Sunday, February 7, 2010

TIPS 'N TRIK for doing fun at DUFAN

Kemarin gue ke Dunia Fantasi alias DUFAN alias tempat yang gue anggap seperti neraka untuk beberapa saat. Karna apa? Karna di sanalah gue berhasil dibuat seperti orang penyakitan yang kerjaannya sempoyongan, pusing, mabok, dan muntah melulu. Asli! Rasanya gue pengen langsung pulang. Kesel sendiri gue jadinya. Tapi nyatanya gue tetap membantai semua wahana di DUFAN itu dengan sok ga kenapa-kenapa. Dan perlahan-lahan gue menemukan tips 'n trik untuk naik wahana-wahana yang menyebabkan maut manusia di ujung tanduk. Ini dia beberapa tips yang gue temukan dan ingin gue bagi...

1. Diam itu adalah emas.
Sumpah gue ga boong! Itu pribahasa bener banget! Pas gue naik pontang-panting, gue lebih baik diem daripada teriak-teriak ga jelas dan itu pertama kalinya gue menemukan tips itu *maaf berasa penemu banget*. Soalnya yah, kalau lo udah merasa mual / enek / mabok / kebelet muntah tapi lo tetap menghantamnya dengan wahana yang tergolong tidak bertoleransi (contoh: gue), lebih baik diem, tutup mulut, sebisa mungkin jangan membuka mulut sesenti pun, karna (berdasarkan pengalaman gue) kalau ada angin yang masuk ke celah mulut itu semakin akan membuat stadium kemualan / keenekkan meningkat.

2. Beri sentuhan lembut.
*maaf kayak iklan*. gini maksut gue, kalau lo mempraktekkan tips no.1, please banget beri sentuhan ke orang yang ada disamping Anda. Kenapa? Ya, supaya ga dikirain mati! Dan hal ini tetap berdasarkan pengalaman gue, pas gue naik TORNADO, gue pastinya mempraktekkan tips penemuan gue yang no.1, gue diem tuh, tapi cowok gue yang (Alhamdulillah) duduk disebelah gue malah nengok-nengok ngeliatin gue mulu sampai akhirnya dia megang tangan gue kenceng banget dan nanya, "Cis cis! Acis! Kamu ga apa-apa kan?" Dan pas TORNADOnya lagi dalam posisi diem, cowok gue nengok lagi ke gue dan bilang, "Heh aku kira kamu kenapa-kenapa." Spontan gue jawab, "Hah? Kenapa-kenapa apa maksut lo? Mati gitu? Gila! Ga, gue lebih baik diem."

3. Jangan nafsu!
Hmm.. maksut gue adalah jangan nafsu megang pegangan pengamannya. Walaupun emang takut banget, tapi semakin keras atau semakin nafsu lo pegangan itu malah bikin lo makin pusing. Jadi lebih baik rileks aja deh, pasrah aja, terserah mau diapain aja kek sama itu wahana. Gue menemukan tips no. 3 ini pas naik TORNADO.

4. Berdo'a!
Emang klise banget sih kedengerannya dan mungkin terlalu agamis buat beberapa tipe orang. Tapi asli deh ini mujarab banget! Pas gue naik KICIR-KICIR, yang gue takutin cuma 1, pengamannya error / copot / apalah itu yang menyebabkan gue bisa jatuh dari ketinggian beberapa meter dari permukaan tanah. Secara gue belum terlalu mual pas naik KICIR-KICIR, jadi do'a gue adalah "Ya Allah, tolong jaga pengaman ini sekuat-kuatnya. Aku ga mau jatoh ke bawah." Gue terus berdo'a kaya gitu sepanjang permainan dan setelah permainannya selesai, pengaman gue ga bisa dibuka! Jeng jeng jeng... yang lain udah pada keluar arena dan gue masih duduk di KICIR-KICIR. Gue udah ngedorong pengamannya itu tapi ga kebuka. Terus cowok gue bantuin narik, tetep aja ga bisa kebuka. Sampai akhirnya dua orang mas-mas penjaganya turun tangan ngebukain pengaman gue, dan baru bisa kebuka. Di satu sisi, gue seneng banget pengamannya ga bisa kebuka gitu, jadi keparnoan gue ga terjadi. Tapi di satu sisi, gue pengen cepet-cepet keluar dan muntah. Asli gue enek banget! Ya... sebenernya kalau masalah do'a mah tergantung masing-masing orang sih, tergantung do'anya ampuh atau ga.

5. Keluarin aja lah...
N
ah, kalau ngerasa udah mual banget, muntahin aja. Jangan ditahan-tahan. Lebih baik, muntahin dulu isi perut Anda, baru deh makan. Jangan kaya gue, muntahnya tepat setelah makan. Itu mah sayang banget makanannya..

6. Tinggal seduuuhh..
Kalau tips terakhir ini, semua orang juga pasti udah tau, kalau udah muntah tapi tetep ngerasa mual, makan POP MIE deh. Sebenernya yang penting sih kuahnya.. Mienya kadang malah bikin makin enek.


Sekian tips 'n trik dari saya. Selamat mencoba! :DD
aciso.

Wednesday, January 27, 2010

men in mine

Saking ga ada kerjaan dan bingung mau ngapain karena SOOCA udah selesai, dan Alhamdulillah gue dapet A dengan nilai yang sangat sangat membuat gue bertingkah aneh tepat di depan dosen penguji dan sukses bikin mereka ngetawain gue. Sejak malam ini sampai satu minggu ke depan gue berniat mengistirahatkan otak gue yang udah berontak gara-gara mumet dipaksa kerja rodi terus selama beberapa bulan kemarin. Gue pun mengisi kekosongan malam ini dengan tidur-tiduran sambil iseng ngebuka-buka notes di HP gue, dan gue menemukan sebuah notes yang dibuat tanggal 29 Desember 2009..


Sempat terbersit dan berharap banget punya dua orang yang sangat berarti di hidup gue, selain anggota keluarga gue pastinya. Dua orang itu adalah seorang Prince Charming dan seorang Guardian Angel. Honestly, ini merupakan hasil kontaminasi efek Boys Before Flowers.

... Prince Charming. Hmmm... Pengen rasanya cuma satu kata itu yg keluar dari mulut gue, karena pada kenyataannya, seseorang yang gue anggap sebagai Prince Charming (yang honestly sebutan itu langsung dengan gampangnya gue berikan saat pertama kalinya gue kenal dia), sekarang udah ga ada lagi di hidup gue, sekedar bayang-bayangnya aja pun ga ada. Gue menganggap itu adalah sebuah praktek hidup tentang kalimat, “Manusia boleh berkehendak tapi Allah yang menentukan.”

... Prince Everything. Memang bukan Prince Charming yang dulu sempat gue harapkan, tapi alhamdulillah Allah memberikan gue seseorang yang bukan sekedar Prince Charming tapi juga Prince Everything. Sebuah hadiah yang menurut Allah mungkin suatu hal yang kecil tapi buat gue sangat berarti.

... My Guardian Angel. Dia adalah seseorang dimana gue selalu tumpahin semua emosi yang sedang gue alami sebagai seorang remaja labil. Dia selalu ada dan ikhlas bangunin gue hampir setiap hari. Dia selalu ada buat bantu gue, baik dalam pelajaran maupun dalam banyak hal sehari-hari. Dia seorang kakak buat gue, yang juga merupakan hadiah dari Allah karena gue rasa Allah tau seorang remaja yang selalu labil sana-sini (seperti gue) pastinya sangat mendambakan seorang kakak dalam hidupnya.


Dan merekalah yang gue punya saat ini, yang Insya Allah selalu ada di deket gue, dan gue berharap mereka ga akan pernah hilang sedetik pun dari hidup gue. Karena gue ga mau lagi ngerasain panasnya otak, panasnya mata, dan ancurnya hati saat gue kehilangan orang-orang yang sangat gue sayangi..

I ♥ YOU - aciso

Monday, January 4, 2010

sebuah kisah menjelang tahun baru (PART 2)


..... Tepat di hari kepulangan Papi dari haji, keluarga besar dikabarkan kalau Bude masuk rumah sakit dan dirawat di ICU karena sudah tidak bisa lagi minum dan makan. Beberapa jam kemudian, Bude tiba-tiba anfal dan tidak sadarkan diri, Pakde dan Mas Ai terus menerus menyebut nama Allah di telinga Bude dan membaca surat yasin tanpa henti di sisi Bude, tapi Bude tetap tidak sadarkan diri, akhirnya Pakde membaca do’a dan mengusapkan telapak tangannya ke perut Bude yang menjadi sumber perkembangan kanker tersebut, tiba-tiba Bude pun memuntahkan semua isi perutnya dan kembali sadarkan diri. Keluarga besar dari pihak Bude pun hanya bisa melihat dari kejauhan karena memang Pakde melarang mereka mendekati Bude bahkan berkomunikasi dengannya, karena keluarga besar Bude juga beragama Kristen. Tak lama kemudian, Pakde mendatangkan seorang Kyai untuk segera mengislamkan Bude, tapi pihak keluarga besar Bude menolak dan melarang Kyai masuk ke ruangan tempat Bude dirawat. Pakde pun marah dan bilang, “Dia istri gue! Gue menghargai kalian sebagai keluarga dia, kalian ngelarang Pak Kyai ini masuk? Okay, gue turutin. Jadi biar gue sendiri yang Islamin dia.” Alhamdulillah Pakde ditakutin di keluarga besar Bude karena emang Pakde tegas banget orangnya. Pakde pun terus memohon kepada Bude untuk mengikuti ucapan Pakde, “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. ” Tapi sayangnya Bude sudah ga bisa lagi bicara, terdengar suara dari mulut Bude tapi samasekali tidak jelas kata-kata apa yang diucapkannya. Pakde pun terus mengucapkan dua kalimat syahadat, dan terdengar suara dari mulut Bude seraya mengikuti ucapan Pakde, tapi karena tidak satu kata pun yang bisa terdengar jelas, semua orang yang berada dalam ruangan tersebut pun ragu apakah Bude mengucapkan dua kalimat syahadat atau bukan? Dan Bude pun mendadak sesak nafas, Mas Ai langsung mengumandangkan azan tepat di telinga Bude, dan Pakde membuka seluruh pakaian Bude, dan memegang tubuh Bude dari ujung jempol kaki sampai ke pundak seluruhnya terasa dingin, dan tak ada respon atau bahkan pergerakan sedikit pun dari Bude, padahal biasanya kalau tubuhnya tersentuh sedikit saja, Bude akan menjerit kesakitan. Pakde pun tiba-tiba berkata, “Nyawanya sudah sampai tenggorokan! Baca Yasin semua! Ai terus azan!” Pakde berteriak meyuruh anak perempuannya dan menantunya untuk membaca Yasin di saat sakaratul maut Bude. Sedangkan keluarga besar Bude hanya bisa menangis dan melihat Bude dari kejauhan, tanpa bisa mendekatinya samasekali. Nafas Bude pun semakin sesak, dan akhirnya Bude meninggal dunia...

Dan ini lah jawaban dari Allah atas do’a yang selalu dipanjatkan Pakde dan juga jawaban atas janji Pakde selama ini, Bude meninggal dunia tepat setelah Pakde pulang haji, dan memang maut yang mungkin hanya bisa memisahkan mereka berdua... Allah pasti memberikan segalanya yang terbaik.


Dan semuanya pun berakhir seperti ini......



Tapi keluarga besar gue Insya Allah yakin sebenarnya Bude ada niat untuk masuk Islam, tapi Bude takut dan ragu karena mendapat tekanan dari keluarga besarnya. Pakde, Mas Ai, dan keluarga besar gue pun yakin kalau kata-kata terakhir yang diucapkan Bude adalah dua kalimat syahadat. Biarlah jenazah Bude mau diperlakukan dengan cara seperti apapun, itu hanyalah seonggok benda mati yang sudah tak bernyawa, tapi Alhamdulillah nyawanya sudah sebaik mungkin diperlakukan dengan cara Islam, dan hanya nama-nama Allah yang didengarnya di saat sakaratul mautnya...



P.S:
* Papi, yang baru 1 hari menginjakkan kakinya di Indonesia setelah menunaikan ibadah haji, memilih tidur di mobil saat sedang dilakukan upacara kematian untuk jenazah Bude yang sedang disemayamkan di rumah duka. Saat Papi tidur, Papi bermimpi... bertemu dengan Pak Katsiran (Eyang Kakung gue yang sudah lama meninggal dunia dan gue belum sempat samasekali bertemu langsung dengannya) di suatu ruangan besar yang penuh dengan banyak orang yang tak dikenal, seperti ruang tunggu yang di salah satu sisinya ada lorong lebar yang sangat terang. Di sana seluruh keluarga besar gue berkumpul. Seluruh anak-anak Pak Katsiran, menantu-menantunya, cucu-cucunya, semuanya... Dalam mimpi itu pun, Papi memeluk Pak Katsiran dan memohon do’a restunya, Pak Katsiran pun tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih dan berpamitan untuk segera pergi. Papi melepaskan pelukannya dan Pak Katsiran melambaikan tangannya dengan penuh senyuman bahagia kepada seluruh keluarga besar yang ada di sana sambil terus berjalan menuju lorong lebar yang terang itu.


** maaf banget sebelumnya buat orang-orang yang non-islam
** feel free to comment anyone... :)

Cherio,
Aciso

sebuah kisah menjelang tahun baru (PART 1)


Gue punya seorang Pakde di Bandung, yang mana dia adalah kakak kandung dari Mami, Pakde tinggal bersama Istrinya (biasa gue panggil Bude), 2 orang anak, 1 ora
ng cucu dan 1 orang menantu. Di saat gue lagi pengen nge-bandung karena bosan dengan kehidupan monoton di Jatinangor, di sanalah gue selalu menginap. Bude yang emang dasarnya gaul banget, selalu ngeledekin gue sama Kendry, karena emang Kendry yang selalu nganter-jemput gue kalau gue nginep di sana, jadi mereka sudah saling kenal. Saat terakhir gue nginep di rumahnya, Bude masih sehat banget, masih ketawa-ketawa, masih ngajak gue ngerumpi, masih ngeledek-ledek gue masalah cowok, dan masih sangat kuat ngerokok. Suatu ketika, Pakde yang sudah berniat untuk pergi haji serombongan dengan keluarga, mengajak Bude dan anak-anaknya pergi haji bersama, tapi Bude lebih memilih untuk berlibur ke Singapur bersama anak, cucu dan menantunya. Pakde pun ga bisa memaksa dan meninggalkan uang untuk mereka berlibur dan Pakde pun berangkat menunaikan ibadah haji.

Tapi beberapa minggu kemudian, saat 5 orang dari keluarga besar Mami pergi haji (termasuk Pakde), gue tiba-tiba dikabarin Mami kalau Bude sakit. Gue pikir biasa ajalah yaa orang tua sakit.. Bude emang sering ngeluh sakit perut dari dulu (bertahun-tah
un yang lalu), tapi Bude ga pernah nganggep itu serius, Bude selalu ngatasin itu dengan minum obat maag, dan yaaa emang langsung ga terasa lagi sakitnya, tapi ternyata itu terus-menerus terjadi. Sampai akhirnya Bude bener-bener kesakitan dan ga bisa nahan, sampai nyariiis pingsan, Bude juga ternyata mengalami mens yang ga berhenti-henti selama beberapa minggu terakhir, langsunglah Bude dibawa ke rumah sakit terdekat oleh kedua anaknya dan juga menantunya. Bude langsung menjalani berbagai tes laboratorium, dan ternyata penyakit Bude ga biasa aja (seperti yang sebelumnya gue pikir), Bude divonis kanker perut stadium 4, dan dokter memperkirakan hidupnya maksimal 6 bulan lagi, kalaupun ada keajaiban hidupnya hanya bisa bertahan sampai kurang lebih 8 bulan. Otomatis keluarga gue shock banget, dan keluarga memutuskan untuk ga memberitahu Bude dan Pakde dulu tentang penyakit Bude. Dikarenakan Bude pasti belum siap untuk mendengar itu dan juga Pakde sedang menjalankan ibadah haji yang wajib. Seiring dengan menyembunyikan suatu hal besar itu, Bude dirawat di rumah sakit, tapi Bude ga bisa bertahan lama di sana karena keadaan Bude yang alergi obat-obatan, akhirnya dokter pun menyarankan untuk dirawat di rumah saja sambil mengkonsumsi suplemen makanan berupa vitamin yang biasa Bude konsumsi. Saat gue dan beberapa orang dari keluarga gue menjenguknya di rumah, Bude masih sangat tegar, Bude nekat untuk keluar kamar dan duduk di sofa TV supaya bisa ngobrol dan bercanda bareng. Bude pun bingung kenapa Mami dan tante gue nangis setiap berhadapan muka dengan Bude, karena semua orang pun begitu. Kita semua yang ada di sana cuma bisa diam dan senyum, tanpa memberi jawaban yang berarti atas pertanyaannya.

Waktu pun terus berjalan, sampai akhirnya Bude akan dibawa ke Singapur untuk berobat, mau tidak mau, pihak keluarga harus memberitahunya tentang penyakit sebenarnya yang dia derita. Bude pun amat sangat shock dan terus menangis sejak ia tau penyakit yang sebenarnya menggerogoti tubuhnya, tapi Bude ga tau kalau kanker dalam tubuhnya itu sudah sampai menyerang paru-paru dan hatinya. Pakde pun di Arab sana, akhirnya diberitahu oleh Papi yang juga sedang pergi haji, dan Pakde sejak saat itu langsung jadi cowok paling cengeng di sana. Sesampainya di Singapur, beberapa rumah sakit di Singapur pun ga bisa menangani penyakit Bude, dokter-dokter di sana pun hanya bisa angkat tangan karena memang stadium 4 yang dialami Bude sudah ga bisa diobati. Akhirnya Bude pun pulang dengan tanpa hasil apapun. Dokter di Indonesia akhirnya menawarkan Bude untuk menjalan kemoterapi, mendengar hal itu Bude langsung meminta penjelasan detail tentang kemoterapi dari dokter tersebut, tapi Bude langsung saja menolak tawaran itu, alasan B
ude adalah… dia ga mau nanti saat suaminya (Pakde gue) pulang dari haji, melihat dia jadi jelek, kurus dan botak. Anak-anak, menantunya, dan keluarga besar dari pihak Bude maupun Pakde pun terharu banget saat tau alasannya itu, sungguh seorang istri yang hebat, tapi 1 hal jadi masalah besar dalam keluarga besar gue adalah keyakinan Bude yang berbeda dengan keyakinan keluarga besar gue. Bude beragama Kristen. Hal ini yang sungguh jadi beban terbesar keluarga gue, terutama suami dan anak-anaknya. Mami dan tante gue pun meminta anak laki-lakinya (biasa gue panggil Mas Ai) untuk terus memohon ke mamanya agar mau masuk Islam. Awalnya Bude menolak dengan tanpa pikir panjang, dan sempat terjadi perdebatan yang sopan antara Bude dan Mas Ai. Tapi Mas Ai pun tidak terbersit 1 kata pun dalam hatinya untuk mundur, Mas Ai terus memohon sampai air matanya pun tak bisa ia tahan untuk tidak mengalir deras. Mas Ai dan seluruh keluarga besar gue ga mau Bude masih memeluk keyakinannya sampai sakaratul maut tiba, kita ga mau seorang istri yang sangat baik dan sehebat Bude mendapat siksa di akhirat. Dan Mas Ai lah satu-satunya orang yang paling bisa diandalkan selama Pakde belum pulang dari haji, Mas Ai selalu mendampingi Bude sampai tidur bersama mama yang sangat dicintainya itu, dan tak lepas juga Mas Ai terus memohon bahkan sampai mencium kedua kaki mamanya dan terus membisikkan kalimat Allah ke telinga mamanya di saat mamanya sedang tidur. Dan hal itu terus menerus dilakukan oleh Mas Ai setiap harinya, seiring waktu berjalan, seiring dengan perkembangan kanker yang begitu pesat dalam tubuh mamanya, juga seiring dengan semakin melemahnya kondisi mamanya.

Beberapa minggu kemudian, menjelang kepulangan rombongan haji keluarga gue (selain Papi karena memang beda kloter), gue dapat kabar kalau kanker Bude sudah sampai tenggorokan. Pakde pun langsung pulang ke rumahnya di Bandung untuk segera menemui istri tercintanya itu. Saat pertemuan untuk pertama kalinya setelah kepulangan Pakde dari haji itu,
Bude pun memeluk Pakde dan menangis dipelukkannya sambil meminta maaf karena sudah ngecewain dan nyusahin Pakde karena Bude sakit di saat Pakde sedang menjalankan ibadah haji. Semua orang yang mendengar itu pun langsung terharu dan dalam benak Pakde, Pakde ga akan menyerah untuk meminta Bude masuk Islam. Karena memang itu merupakan janji terbesar dalam hidupnya dan juga doa utama yang selalu Pakde panjatkan selama ia menjalankan ibadah haji. Bude masuk Islam atau bercerai, itu lah pilihan yang nantinya akan dilontarkan Pakde setelah ia menyandang gelar haji, karena Pakde tidak mau terus-menerus berzinah dengan wanita yang tidak seiman dengannya. Dan sebenarnya saat Bapaknya Pakde (Eyang Kakung gue) sakaratul maut (bertahun-tahun yang lalu), Bude melontarkan janji tepat dihadapan Eyang untuk nantinya menjadi seorang muslimah. Tapi nyatanya setelah bertahun-tahun menikah dengan Pakde, Bude tetap memegang teguh keyakinannya itu. Sebelum Pakde menunaikan ibadah haji, Pakde sudah tiga kali menjalankan umroh, dan setiap kali Pakde pulang umroh, Pakde selalu meceraikan Bude karena Bude terus menolak untuk masuk Islam. Namun mereka pun terus menerus kembali rujuk karena memang saling mencintai.



*TO BE CONTINUED*

Saturday, December 19, 2009

PRIMAJASA, pahlawan tanpa ada jasa

Okay, ini akan jadi sebuah curhat-colongan gue yang berikutnya, tapi asli lah gue pengen bgt nge-post-in ini karena ini merupakan pengalaman superpertama gue banget! *maaf lebay*

Ceritanya minggu ini tuh kan long-weekend jadi gue berniat pulang ke Jakarta, berhubung temen gue yang biasa gue tebengin lagi ga pulang, jadilah gue superheboh nyari alternatif lain buat ke Jakarta dgn selamat sentausa. Nah Dandon (senior gue di kampus) nawarin buat pulang bareng tapi naik Prima Jasa a.k.a Bis! Oh My GOD! Honestly, gue mikir berkali-kali dulu sebelum mengiyakan atau meng-enggak-kan, gue cari-cari alternatif lain, tapi dasar lagi ga hoki kali yaaa.. gue ga dapet alternatif lain yg gue dambakan (bukan naik bis primjas). Akhirnya gue mengiyakan deh tuh tawaran untuk naik primjas dengan lumayan terpaksa (mau gimana lagii..), gue udah masa bodo amatlah yang penting gue pengen secepatnya Hello-Jakarta!

Nah hari Kamis itu, angkatan gue lagi ada Extramural which is jalan-jalan ke berbagai tempat yang masuk nilai mata kuliah BHP. Abis Extramural itu ternyata masih ada lecture di kampus, jam 2 siang sampai jam 4. Asli lah ya itu anak-anak udah pada ga konsen banget dengerin lecturenya, semuanya pikirannya udah melayang-layang pengen pulang, tak terkecuali gue. Akhirnya jam 5an deh tuh gue baru ke terminal bis itu, dan guess what?? Gue harus nunggu bis dambaan gue itu sekitar 1 jam-an, ditambah lagi gue panik ngelindungin mata gue yg bersoftlens dari asap-asap dan debu-debu terminal. Dan begitu bisnya dateng, gue superseneng banget, sampe gue rela desek-desekan pas masuk ke bis supaya bisa dapet kursi. ternyata eh ternyata... semua kursi penuh! dan gue ga tau duduk dimana. sumpah itu rasanya mata gue udah panas banget pengen nangis, badan udah lemes ga enak badan, otak udah pasrah. Dan akhirnya gue duduk di tangga pintu bis bersama Dandon. Aduh gue bener-bener ga tau harus ngapain lagi, gue udah bener-bener pasrah bgt pas itu. Gue duduk aja, diem, tapi ga tidur karena emang ga sepantesnya untuk gue bisa tidur dengan keadaan seperti itu.

Tiba-tiba gue merasa hasrat gue untuk ke Jakarta luntur, malahan otak gue mikirin Kendry Yordian terus-terusan sepanjang jalan.. Seandainya Kendry ada di samping gue, nemenin gue.. Mungkin ga akan se-bete itu gue jadinya. Terus si Pak Supir yang duduknya tepat di sebelah gue itu ngerokok pula, makin gedeg aja lah gue! Masalahnya ya itu bis tuh ada sekat pembatas smoking room, eh ini si supirnya malah dgn enaknya ngerokok gitu aja di bagian paling depan non-smoking room. Ditambah lagi pas pertengahan jalan kena macet, sumpah gue pengen nangis rasanyaaaa... itu mata gue udah panas banget banget, dan otak gue semakin liar ngebayangin Kendry (seandainya dia ada di samping gue Ya ALLAH...).

Dan bukan cuma itu aja, gue juga kelaperan banget, mana gue lagi ga enak badan, kepala pusing banget, terus ga nyampe-nyampe.. Gue udah diem aja tuh sepanjang jalan sambil megangin majalah Go Girl! yang sengaja gue bawa untuk mengantisipasi kelabilan mendadak. Ternyata samasekali gue ga bisa baca si Go Girl! itu... karena emang udah ga ada mood samasekali dan penerangan di bis itu kurang kalau untuk membaca. Jadilah gue semakin pasrah.. Dan beneran aja lah, sepanjang jalan itu yang ada di otak gue adalah Kendry dan kasur gue tercinta. Hasrat gue untuk Kendry ada di samping gue itu melebihi hasrat gue untuk cepet nyampe Jakarta. Untung banget gue ga keabisan pulsa mendadak yang mengakibatkan gue ga bisa SMSan sama Kendry, Ya Allah kalau sampe itu terjadi, gue pengen pingsan aja lah sekalian, biar gue samasekali ga tau gimana rasanya hari penuh ketidak-beruntungan itu.. Satu hal
yang terekam jelas dan bakal jadi memory jangka panjang dalam otak gue adalah.........
NO, THANKS! GUE KAPOK NAIK BIS!

Cherio,
Aciso