Monday, January 4, 2010

sebuah kisah menjelang tahun baru (PART 2)


..... Tepat di hari kepulangan Papi dari haji, keluarga besar dikabarkan kalau Bude masuk rumah sakit dan dirawat di ICU karena sudah tidak bisa lagi minum dan makan. Beberapa jam kemudian, Bude tiba-tiba anfal dan tidak sadarkan diri, Pakde dan Mas Ai terus menerus menyebut nama Allah di telinga Bude dan membaca surat yasin tanpa henti di sisi Bude, tapi Bude tetap tidak sadarkan diri, akhirnya Pakde membaca do’a dan mengusapkan telapak tangannya ke perut Bude yang menjadi sumber perkembangan kanker tersebut, tiba-tiba Bude pun memuntahkan semua isi perutnya dan kembali sadarkan diri. Keluarga besar dari pihak Bude pun hanya bisa melihat dari kejauhan karena memang Pakde melarang mereka mendekati Bude bahkan berkomunikasi dengannya, karena keluarga besar Bude juga beragama Kristen. Tak lama kemudian, Pakde mendatangkan seorang Kyai untuk segera mengislamkan Bude, tapi pihak keluarga besar Bude menolak dan melarang Kyai masuk ke ruangan tempat Bude dirawat. Pakde pun marah dan bilang, “Dia istri gue! Gue menghargai kalian sebagai keluarga dia, kalian ngelarang Pak Kyai ini masuk? Okay, gue turutin. Jadi biar gue sendiri yang Islamin dia.” Alhamdulillah Pakde ditakutin di keluarga besar Bude karena emang Pakde tegas banget orangnya. Pakde pun terus memohon kepada Bude untuk mengikuti ucapan Pakde, “Asyhadu alla ilaha ilallah wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa rasuluh. ” Tapi sayangnya Bude sudah ga bisa lagi bicara, terdengar suara dari mulut Bude tapi samasekali tidak jelas kata-kata apa yang diucapkannya. Pakde pun terus mengucapkan dua kalimat syahadat, dan terdengar suara dari mulut Bude seraya mengikuti ucapan Pakde, tapi karena tidak satu kata pun yang bisa terdengar jelas, semua orang yang berada dalam ruangan tersebut pun ragu apakah Bude mengucapkan dua kalimat syahadat atau bukan? Dan Bude pun mendadak sesak nafas, Mas Ai langsung mengumandangkan azan tepat di telinga Bude, dan Pakde membuka seluruh pakaian Bude, dan memegang tubuh Bude dari ujung jempol kaki sampai ke pundak seluruhnya terasa dingin, dan tak ada respon atau bahkan pergerakan sedikit pun dari Bude, padahal biasanya kalau tubuhnya tersentuh sedikit saja, Bude akan menjerit kesakitan. Pakde pun tiba-tiba berkata, “Nyawanya sudah sampai tenggorokan! Baca Yasin semua! Ai terus azan!” Pakde berteriak meyuruh anak perempuannya dan menantunya untuk membaca Yasin di saat sakaratul maut Bude. Sedangkan keluarga besar Bude hanya bisa menangis dan melihat Bude dari kejauhan, tanpa bisa mendekatinya samasekali. Nafas Bude pun semakin sesak, dan akhirnya Bude meninggal dunia...

Dan ini lah jawaban dari Allah atas do’a yang selalu dipanjatkan Pakde dan juga jawaban atas janji Pakde selama ini, Bude meninggal dunia tepat setelah Pakde pulang haji, dan memang maut yang mungkin hanya bisa memisahkan mereka berdua... Allah pasti memberikan segalanya yang terbaik.


Dan semuanya pun berakhir seperti ini......



Tapi keluarga besar gue Insya Allah yakin sebenarnya Bude ada niat untuk masuk Islam, tapi Bude takut dan ragu karena mendapat tekanan dari keluarga besarnya. Pakde, Mas Ai, dan keluarga besar gue pun yakin kalau kata-kata terakhir yang diucapkan Bude adalah dua kalimat syahadat. Biarlah jenazah Bude mau diperlakukan dengan cara seperti apapun, itu hanyalah seonggok benda mati yang sudah tak bernyawa, tapi Alhamdulillah nyawanya sudah sebaik mungkin diperlakukan dengan cara Islam, dan hanya nama-nama Allah yang didengarnya di saat sakaratul mautnya...



P.S:
* Papi, yang baru 1 hari menginjakkan kakinya di Indonesia setelah menunaikan ibadah haji, memilih tidur di mobil saat sedang dilakukan upacara kematian untuk jenazah Bude yang sedang disemayamkan di rumah duka. Saat Papi tidur, Papi bermimpi... bertemu dengan Pak Katsiran (Eyang Kakung gue yang sudah lama meninggal dunia dan gue belum sempat samasekali bertemu langsung dengannya) di suatu ruangan besar yang penuh dengan banyak orang yang tak dikenal, seperti ruang tunggu yang di salah satu sisinya ada lorong lebar yang sangat terang. Di sana seluruh keluarga besar gue berkumpul. Seluruh anak-anak Pak Katsiran, menantu-menantunya, cucu-cucunya, semuanya... Dalam mimpi itu pun, Papi memeluk Pak Katsiran dan memohon do’a restunya, Pak Katsiran pun tersenyum bahagia dan mengucapkan terima kasih dan berpamitan untuk segera pergi. Papi melepaskan pelukannya dan Pak Katsiran melambaikan tangannya dengan penuh senyuman bahagia kepada seluruh keluarga besar yang ada di sana sambil terus berjalan menuju lorong lebar yang terang itu.


** maaf banget sebelumnya buat orang-orang yang non-islam
** feel free to comment anyone... :)

Cherio,
Aciso

0 comments:

Post a Comment